Selasa, 24 Juli 2012

Menyuburkan keimanan


            

Mengapa Allah SWT menurunkan syariat untuk mendidik manusia sepanjang hayat, baik yang  bersifat harian (yaumiyyah), mingguan (usbu'iyyah), bulanan (syahriyyah), tahunan (amiyyah), dan sekali seumur hidup (marrotan fil 'umri) ?


            Sehari semalam kita diwajibkan shalat lima waktu. Dalam seminggu kita diwajibkan shalat jumat dan dianjurkan puasa senin dan kamis. Dalam sebulan kita dianjurkan berpuasa pada hari-hari purnama.

            Begitu pula dalam setahu, kita diwajibkan puasa Ramadhan dan disunnahkan Shalat Idul Fitri dan Idul Qurban. Sekali seumur hidup kita wajib menunaikan ibadah haji ke Baitullah. Agaknya, Allah SWT sengaja membuat siklus dimana kita berputar dalam kondisi ibadah secara konstan.

            Dalam rangka menyuburkan keimanan, kita perlu membuat standar ibadah. Dalam sehari-hari, paling tidak ada tujuh jenis standar ibadah kita.
Pertama, Shalat fardhu di masjid berjamaah.
Kedua, shalat sunnah rawatib ba’diyah dan qalbiyah,
Sebagaimana Rasulullah SAW secara berkesinambungan selalu menjalankan shalat sunnah 12 rakaat.
Ketiga, membaca al-Qur’an sebanyak satu juz sehari. Sebab, sesungguhnya hati-hati itu bisa berkarat sebagaimana besi. Cara menghilangkannya, kata Rasulullah SAW, bacalah al-QUr’an dengan menghadirkan hati.
Keempat, wirid secara berkesinambungan (mudawamah) dan konsisten (istiqamah).
Kelima, shalat sunnah Dhuha.
Keenam, shalat Tahajud.
Dan, Ketujuh, bersedekah, walaupun hanya sedikit.
            Demi menjaga ritme dan stamina spiritual kita, ibadah harian yang bersifat rutin itu perlu dipertahankan dengan sikap istiqamah serta membiasakan diri dan menyediakan waktu khusus untuk bermuhasabah.






sumber: Hidayatullah

1 komentar: