Sabtu, 24 Desember 2011

Tugas Sejarah : Batu Indra Giri



Tugas Kelompok Sejarah













Nama Kelompok :

1.      Dian Intan Permatasari
2.      Indah Senthia
3.      Intan Amaliah
4.      Reni Nur Hidayati
5.      Nurhalimah




Kata Pengantar

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang MahaKuasa yang telah member karunia-Nya atas selesainya rangkuman Batu Indra giri.
Didalam buku ini terdapat penjelasan asal muasal tentang Batu Indra giri Beserta Gambar-gambarnya dan ditambah dengan asal usul Kerajaan Sadurengas.
Kami harapkan Buku ini dapat bermanfaat dan dapat menambah wawasan kita tentang salah satu sejarah Kabupaten Paser, yaitu Batu Indra  Giri.


Terima Kasih








Daftar Isi

Kata Pengantar………………………………………………………………......i

Daftar isi ………………………………………………………………………ii

Batu Indra Giri…………………………………………………………………1

Asal Usul kerajaan Sadurengas…………………………………………………...2

Gambar-gambar ………………………………………………………………...6

Sumb er………………………………………………………………………...8












Batu Indra Giri


Batu Indra Giri adalah batu yang dibawa oleh tim ekspedisi penyebaran agama islam dari Kerajaan Demak bernama Abu Mansyur Indra Jaya. Lokasi diatas terletak kurang lebih 500 m sebelah tenggara dari museum Sadurengas. Batu Indra Giri ini menurut sejarahnya adalah batu yang dibawa oleh tim ekspedisi penyebaran agama islam yang bernama, Abu Mansur Indera Jaya. Konon menurut ceritanya batu tersebut selain untuk pemberat sehingga perahu layer tidak oleng diterpa gelombang, juga sebagai isyarat bahwa dimana batu ini dijumpai oleh pengikut ekspedisi disitulah akan didirikan mesjid. Oleh karena itulah disekitar lokasi Batu Indra Giri tersebut pernah berdiri sebuah mesjid yang tertua di Kabupaten Paser yang kala itu diberi nama mesjid “Dosai Tana” selain itu juga terdapat meriam peninggalan bangsa Eropa.









Asal Usul Kerajaan Sadurengas (Kabupaten Paser)

Dalam Kecamatan Pasir Belengkong terdapat sebuah kerajaan yang dijadikan sebagai museum, menyimpan banyak sejarah bagi masyarakat paser secara menyeluruh. Pasir dahulunya bernama kerajaan “Sadurangas”. Adapun asal-usul keturunan raja-raja Pasir ialah Kuripan (Amuntai sekarang), yang menurut ceritanya pada pertengahan abad ke XVI (kira-kira dalam tahun 1565) di daerah Kuripan ini mengalami pergolakan di kalangan pemerintahannya sendiri.
Pada waktu itu Temenggung Duyung dan Temenggung Tukiu, dua orang Panglima Kerajaan Kuripan yang menderita akibat perang saudara di Rantau Panyaberangan, telah melarikan diri ke daerah timur melalui desa Batu-Butok, dengan membawa seorang bayi perempuan.

Bayi kecil tersebut bukanlah diculik, akan tetapi dilarikan dengan sengaja dalam suatu rencana yang telah diatur sebelumnya. Sang bayi adalah puterinya Aria Manau (juga merupakan salah seorang Panglima Kuripan), rekan Temenggung Duyung sendiri, yang dengan susah payah melalui rimba belantara akhirnya sampai juga ke bagian Timur yang bernama “Sadurangas”, yang ketika itu ternyata merupakan ”daerah tak bertuan”.

Setelah Aria Manau mengetahui bahwa puteri kesayangannya telah diselamatkan ke Sadurangas, maka dengan segera Panglima ini menyusul ke sana untuk menemui puterinya. Setelah sekian lama berada di daerah tersebut, oleh karena penduduk sekitar tidak mengenal namanya dan dari mana asal-muasalnya maka penduduk sekitar lebih mengenal Aria Manau dengan sebutan “Kakah Ukop” yang berarti orang tua pemilik kerbau putih yang bernama Ukop. Karena pada waktu itu Aria Manau memelihara kerbau putih bernama Ukop, sedangkan istrinya sendiri oleh penduduk sekitar dipanggil dengan sebutan “Itak Ukop” sedangkan sang bayi dinamainya “Putri Betung”.

Kira-kira pada pertengahan tahun 1575 Masehi, Putri Betung diangkat dan diakui oleh penduduk sekitar sebagai raja pertama di Sadurangas (Pasir). Sebagai seorang raja maka Putri Betung berhak menerima barang-barang kerajaan berupa; ceret, tempat air, pinggan melawen, batil dari tembaga ~barang-barang tersebut ada disimpan oleh Adjie Lambat~, gong tembaga ada di Batu Butok, sumpitan akek, kipas emas, sangkutan baju, dan sebuah peti dari batu yang berasal dari seseorang yang ditemui “Kakah Ukop” dalam suatu pelayaran yang mengharuskannya menyerahkan barang-barang tersebut apabila di Pasir telah memiliki seorang raja.

Rakyat di daerah tersebut merasa berbahagia mempunyai seorang raja putri yang selain arif bijaksana, tetapi juga terkenal kecantikannya.
Setelah Putri Betung dewasa, Ia dikawinkan dengan seorang raja dari tanah Jawa (Giri), bernama Pangeran Indera Jaya, yang datang dengan kapal layar yang membawa sebuah batu. Setelah perkawinan itu, maka batu yang dibawanya dari Jawa (Giri) lalu dibongkarnya, sehingga sampai sekarang batu tersebut masih tersimpan di Kampung Pasir (Benua) yang lebih dikenal oleh penduduk sekitar dengan sebutan “Batu Indera Giri” dan dikeramatkan orang.

Dari perkawinan dengan Pangeran Indera Jaya, Putri Betung memperoleh seorang putera yang diberinya nama Adjie Patih dan seorang puteri yang diberinya nama Putri Adjie Meter. Adjie Patih kemudian menjadi raja menggantikan Putri Betung.  Dari hasil perkawinannya, Adjie Patih memperoleh seorang putera yang diberinya nama Adjie Anum.
Sedangkan saudaranya Adjie Patih yang bernama Putri Adjie Meter menikah dengan seorang Arab keturunan Ba’alwi dari Mempawah – Kalimantan Barat.

Suami Putri Adjie Meter inilah yang menyebarkan agama Islam di daerah Pasir, kurang lebih 250 tahun yang lampau. Dari hasil perkawinannya dengan seorang Arab inilah, Putri Adjie Meter memperoleh dua orang anak yang diberinya nama Imam Mustafa dan Putri Ratna Berana. Salah seorang anak Putri Adjie Meter yang bernama Putri Ratna Berana ini kemudian dikawinkan dengan anaknya Adjie Patih yang bernama Adjie Anum. Dari sinilah selanjutnya menurunkan raja-raja Pasir hingga saat ini.

Pada waktu itu Temenggung Duyung dan Temenggung Tukiu, dua orang Panglima Kerajaan Kuripan yang menderita akibat perang saudara di Rantau Panyaberangan, telah melarikan diri ke daerah timur melalui desa Batu-Butok, dengan membawa seorang bayi perempuan.

Bayi kecil tersebut bukanlah diculik, akan tetapi dilarikan dengan sengaja dalam suatu rencana yang telah diatur sebelumnya. Sang bayi adalah puterinya Aria Manau (juga merupakan salah seorang Panglima Kuripan), rekan Temenggung Duyung sendiri, yang dengan susah payah melalui rimba belantara akhirnya sampai juga ke bagian Timur yang bernama “Sadurangas”, yang ketika itu ternyata merupakan ”daerah tak bertuan”.

Setelah Aria Manau mengetahui bahwa puteri kesayangannya telah diselamatkan ke Sadurangas, maka dengan segera Panglima ini menyusul ke sana untuk menemui puterinya. Setelah sekian lama berada di daerah tersebut, oleh karena penduduk sekitar tidak mengenal namanya dan dari mana asal-muasalnya maka penduduk sekitar lebih mengenal Aria Manau dengan sebutan “Kakah Ukop” yang berarti orang tua pemilik kerbau putih yang bernama Ukop. Karena pada waktu itu Aria Manau memelihara kerbau putih bernama Ukop, sedangkan istrinya sendiri oleh penduduk sekitar dipanggil dengan sebutan “Itak Ukop” sedangkan sang bayi dinamainya “Putri Betung”.


Kira-kira pada pertengahan tahun 1575 Masehi, Putri Betung diangkat dan diakui oleh penduduk sekitar sebagai raja pertama di Sadurangas (Pasir). Sebagai seorang raja maka Putri Betung berhak menerima barang-barang kerajaan berupa; ceret, tempat air, pinggan melawen, batil dari tembaga ~barang-barang tersebut ada disimpan oleh Adjie Lambat~, gong tembaga ada di Batu Butok, sumpitan akek, kipas emas, sangkutan baju.







Gambar-Gambar















































Tidak ada komentar:

Poskan Komentar